all my heartbreak for a man seeems like nothing when I lost my dearest one forever. It’s been years and I still find myself crying a river every now and then. miss him like crazy yet there’s no way of meeting him anymore
Rumit sekali ya isi kepalaku. Ada rasa harap yang membuncah, yang aku sadar perlu untuk segera dipadamkan, namun ingin sekali aku genggam erat.
di mana ya letaknya kita di masa depan?
Dalam perjalanan ini, tidak hanya keindahan yang ada. Menemukan diri sendiri di tengah kesedihan dan kedukaan bukan sesuatu yang tidak biasa.
Namun dalam setiap langkah, setiap pertemuan, setiap perpisahan, setiap kelapangan dan kesempitan, ada ruang bertumbuh yang Allah sediakan buat kita.
Bahwa apa yang kamu cintai belum tentu baik bagimu, dan apa yang kamu benci belum tentu buruk bagimu. Sungguh Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak.
Dalam sebuah perjalanan menemukan diri sendiri, 2022.
Kadang kita sadar sedang ditegur, tapi seakan ga mau diingatkan. Denial, masih mau seneng-seneng, padahal tahu itu ga baik, apa yang kita lakukan.
Ah gapapalah, gini doang. Penyakit dicari sendiri.
Seperti kamu yang datang tiba-tiba dari arah yang tidak disangka-sangka, dalam sekejap membolak-balikkan hati dan duniaku. Semudah itu pula, suatu hari akan ada dia yang benar-benar tepat untukku, datang entah perlahan atau mengejutkan, dan menjadikan aku yakin untuk menjalin masa depan.
Yang terpenting sekarang adalah mengatakan pada hati untuk lapang, bahwa tidak ada gunanya memelihara kebahagiaan semu. Yang kini perlu dilakukan ialah meminta hati untuk merelakan, untuk melepaskan, untuk menanggalkan harapan yang sempat digantungkan.
Catatan untuk Diriku Sendiri
Apa yang terjadi sudah digariskan Allah. Semua luka dan rasa sakit adalah penebus dosa. Boleh jadi ia pengingat agar aku mendekat kembali kepada-Mu.
Jika aku merasakan sedih, menghadapi keadaan yang tidak aku suka, cobalah ingat-ingat, barangkali ini jawaban doa-doaku. Bahwa inilah yang terbaik.
Bukankah boleh jadi apa yang kusuka tidak baik bagiku, dan boleh jadi apa yang kubenci baik bagiku? Sungguh, Allah Maha Mengetahui sedangkan aku tidak.
Sungguh Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.
Pemikiranku sangat mungkin salah, tapi selama itu membawa menjadi lebih dekat dengan-Mu, bukankah ada keberkahan di sana?
Tadi pagi ketika sedang berdoa di masjid, tiba-tiba ada ibu di sebelah yang memberikan 1 air mineral sambil tersenyum. Sepertinya beliau menyadari saya sedang menangis saat berdoa lalu memberikan air minum. Di situ air mata semakin mengalir karena membayangkan Allah yang memberikan air minum lewat beliau.
Kalau bukan karena Allah, rasanya tidak mungkin ada orang asing yang rela berdiri dari tilawahnya lalu mengambilkan air minum untuk devi. Seolah Allah sedang menyampaikan, “Tenang saja devi.. ada Aku yang mencintai-Mu dan selalu memberikan apa yang menjadi kebutuhanMu..”
:”””
*crying*
Bahkan, sekedar air minum saja, sejauh apapun mata airnya, jika memang Allah takdirkan untuk kita, maka Allah yang membawakan dari mata air, kemudian di tempat pengolahan air, ada kendaraan yang membawa ke masjid, lalu diantarkan oleh orang, sampai ada di depan tempat duduk saya. Begitu panjangnya perjalanan air minum tsb hingga siap diminum tanpa harus mengambilnya dari mata air, dan sungguh seluruhnya adalah kebaikan dari Allah..
Maka, ketika pikiran dan hati kita sudah mulai diisi oleh selain Allah, siap-siap saja untuk kecewa. Entah manusia, entah pekerjaan, entah sekolah, entah keluarga, dsb. Cukuplah Allah yang menjadi pengisi terbesar hati dan pikiran kita, biarlah Allah yang akan mengurusi sisanya. Tak perlu khawatir atas apa-apa yang akan kita dapat, tak perlu khawatir atas apa-apa yang telah pergi. Semoga selalu ingat bahwa Allah senantiasa ada, bahwa Allah selalu melihat kita dengan cinta, menunggu do’a-do’a terbaik kita, cerita keseharian kita.
Meskipun Allah jauh lebih tau dengan apa yang kita rasakan dan alami, tapi menyampaikan apa yang kita rasakan adalah hal yang semoga bisa menenangkan hati.
Jangan pernah menaruh harap kepada selain Allah ya, dev…
Yogyakarta, 25 April 2022.
Duhai Allah, izinkan hamba mencintaiMu seutuhnya..
Perasaan Bahagia
Tahukah kamu perasaan bahagia, yang begitu menyeruak dari dalam dada. Sampai naik ke tulang pipi dan menggerakkan bibirmu hingga sulit berhenti tersenyum.
Ada semangat baru yang tiba-tiba muncul entah dari mana, membuat harimu jadi menyenangkan, melakukan apa saja dengan ringan.
Bahkan dalam berdiam diri menghadap Yang Maha Kuasa di lima waktu, rasanya mudah. Selalu merasa kurang dan menambah-nambah yang lima jadi enam bahkan tujuh: di sepertiga malam dan di pagi hari.
Energi itu datangnya dari mana, padahal kita tidak berjumpa.
Hanya saja, sejak hadirmu di kehidupanku, ada hasrat untuk menjadi versi terbaik dari diriku. Bukan, sepertinya bukan untuk mengesankanmu. Tapi rasanya ingin saja.
Karena bahagia yang ada di dalam hati terlampau besar untuk dipendam sendiri, hingga ia terlahir menjadi hal-hal baik.
Terima kasih, ya.
Basa Basi Tanya
Lebaran 2011, ada yang melemparkan tanya, “Saiki kok ketok tuo men?” (Sekarang kok keliatan tua banget?) ke bapak yang rambutnya rontok, tinggal tipis sekali. Waktu itu posisi habis kemo.
Masih ingat betul, bapak langsung terdiam, speechless, dengan tatapannya yang melemah. Begitu pun aku. Kaget, mak deg mak tratap. Atiku entek.
I know he mean no harm. Yang bertanya memang tidak tahu ceritanya, tidak tahu kalau bapak sakit. Tapi tetap saja, rasanya menyakitkan.
Aku tahu kita tidak bisa mengendalikan omongan orang. Hanya bisa membesarkan hati agar tidak terlalu merasakan luka.
Tapi semoga kita bisa belajar untuk lebih berhati-hati ketika berbicara, ketika melontarkan basa-basi, memilah mana yang sebaiknya ditanyakan, atau lebih baik disimpan saja.
Selamat lebaran!
28 April yang ke-Enam
Hai, sudah enam tahun ya.
“Apa kabar? Bagaimana waktu berlalu dalam enam tahun ini? Luar biasa, kamu kuat ya.”
Aku masih rindu, masih kangen, masih pilu kalau mengenang. Tapi sekarang sudah bisa lebih lapang, kadang bisa bercanda juga. Menyebut namanya tak sebegitu mematahkan hati seperti dulu.
Masih kusimpan dalam setiap doa-doa yang kupanjatkan, dan insya Allah akan selalu begitu.
Kadang aku merasa bersalah, karena tertawa, karena berbahagia, karena sejenak melupakan fakta bahwa kau sudah pergi. Menikmati hidup seolah tidak ada kesedihan dalam hati.
Sesekali aku masih menangis, karena rasa rindu yang begitu besar, karena rasa sendu yang dalam, ketika aku mengingat tatapan matamu, cerita-cerita yang kau sampaikan, hangatnya pelukmu, dan ketika aku tersadar akan kenyataan bahwa tidak ada lagi kau di sini.
Aku masih rindu, dan rasanya rindu ini tidak akan bisa hilang, hanya saja aku jadi terbiasa merindukanmu.
Sampai nanti di surga ya, Bapak. Rina sayang Bapak.